Blogger Template by Blogcrowds

SELAMAT DATANG DI RUANG KECIL KAMI

Ketika Dina Mengusung Tanya
*Yulfi Zawarnis


Menulis karya fiksi bukanlah sekadar merangkai kata-kata menjadi sebuah cerita. Lebih dari itu, karya fiksi menunjukan pengetahuan dan wawasan penulisnya kerena karya fiksi lahir dari sebuah perenungan (kontemplasi) terhadap kehidupan dan alam sekitar. Penulis yang baik adalah yang mampu menuangkan hasil kontemplasi ini menjadi karya yang senantiasa melekat dalam hati para pembacanya. Dia menjadi karya abadi yang dikenang sepanjang masa.
Membaca “Kau dan Diammu” karya Peristianika mengingatkan saya pada kisah “Ratapan Anak Tiri” dan kisah “Siti Nurbaya”. Kedua kisah yang dikenal banyak orang ini bertemakan cinta dan kasih sayang, tema yang selalu menarik untuk diangkat. Entah ada kaitannya atau tidak, tetapi tema ini juga saya temukan dalam cerpen karya Dina. Kasih sayang yang bisa dimaknai secara luas, antara makhluk berlawanan jenis, antara orangtua dengan anaknya, dan antara adik dengan kakaknya. Ada kisah perjodohan yang membawa petaka dan ada kisah tentang anak yang tidak dikasihi oleh orangtuanya.
Menarik! Cerita ini diawali dengan pernyataan yang menggugah dan menggiring pembaca untuk segera membaca kisah selanjutnya. “Dia baru saja benar-benar pergi untuk selamanya pagi tadi dan malam ini aku masuk ke kamarnya diam-diam. Seperti aku yang diam-diam benci pada Bapakku yang menganggapnya anak yang tak berbakti.” Paling tidak ada lima pertanyaan menarik dari paragraf pembuka ini. Siapa yang baru saja benar-benar pergi, pergi ke mana, mengapa harus masuk kamarnya diam-diam, apa yang menyebabkan tokoh “aku” diam-diam membenci bapaknya, dan mengapa tokoh “bapak” menganggap tokoh “kakak” sebagai anak yang tak berbakti? Berangkat dari paragraf pembuka yang menimbulkan banyak pertanyaan inilah Dina mengembangkan ceritanya menjadi sebuah kisah yang menarik untuk terus diikuti.
Selanjutnya, pembaca dibawa terlena dengan penceritaan tokoh “aku” mengenai bagaimana dia mengenang kakaknya yang baru saja meninggal dunia. Tokoh “kakak” yang kemudian diketahui bernama Irmanisha diceritakan sebagai wanita pendiam dan sangat patuh pada orangtuanya. Dia tidak punya kuasa untuk menolak perjodohan dirinya dengan laki-laki yang tidak dicintainya dan rela memutuskan hubungan kasih dengan orang yang dia sayangi demi menunjukkan kepatuhannya pada orangtuanya.
Sangat mengejutkan ketika kemudian Irmanisha mati di tangan laki-laki itu, ketika mereka sudah bercerai. Peristiwanya terjadi ketika Irmanisha akan melakukan pertunangan dengan lelaki yang dicintainya. Tapi tiba-tiba mantan suaminya, Mas Arul, datang dan menampar mantan istrinya itu yang menyebabkan Irmanisha meninggal karena kepalanya terbentur ke dinding. Pemukulan sendiri disebabkan oleh tuduhan Mas Arul terhadap Irmanisha yang dianggap telah mencuri uang tabungannya.
Di balik itu semua, Irmanisha digambarkan sebagai gadis yang tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari kedua orangtuanya. Pada akhir cerita, penulis menyajikan fakta yang (kemungkinan) menjadi penyebab mengapa Irmanisha diperlakukan tidak sebagaimana layaknya seorang anak. Sebuah fakta bahwa tokoh kakak bukan anak kandung dari orangtua yang selama ini merawatnya. Hal ini cukup menarik karena fakta itu baru diketahui tokoh “aku” ketika dia menziarahi makam kakaknya. Sedikit janggal, tetapi penyajian fakta ini memberikan nuansa tersendiri dalam cerpen karya Dina. Pembaca tidak akan menduga bahwa fakta mengenai Irmanisha yang bukan anak kandung dari orangtua yang selama ini merawatnya baru diketahui setelah Irmanisha meninggal beberapa lama yakni melalui nama yang tertera di batu nisannya.
Bahwa pada akhir ceritanya tokoh “aku” pun mengalami nasib yang sama, dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya, menjadi bagian tersendiri yang masih terkait dengan cerita sebelumnya, dan menjadi penyambung ide antara pengungkapan identitas kakak dengan kisah yang menimpa “aku”.
Tampaknya Dina bukanlah penulis yang baru pertama kali membuat cerpen. Hal ini terlihat dari gayanya bercerita yang telah mampu memanfaatkan teknik bercerita yang tidak monoton. Dina memanfaatkan alur kilas balik yang cukup apik yang membuat pembaca bertanya-tanya bagaimana akhir cerita itu.
Sedikit catatan tentunya dapat menjadi pemacu Dina ataupun siswa lain yang ingin membuat cerpen agar cerita yang disajikan semakin baik. Menulis cerpen tentunya tidak sama dengan menulis puisi. Selain dari segi bentuk, cerpen dan puisi tentu saja berbeda dalam mengolah bahasa sebagai media berkarya. Bahasa puisi adalah bahasa yang singkat, padat, bahkan multitafsir. Akan tetapi, bahasa cerpen lebih lugas dan jelas, sebisa mungkin menghindari kata-kata yang bermakna ganda.
Menulis cerpen berarti menyajikan sebuah cerita dengan bahasa yang lugas dan logis sehingga pembaca dapat memahami dan mengapresiasi cerpen itu dengan baik. Tampaknya Dina kurang cermat ketika menggunakan kata “kau” (yang seharusnya “aku”) pada kalimat “Janda muda yang kau kagumi itu adalah satu-satunya kakak perempuanku.” Juga penggunaan kata “berlahan” yang seharusnya “perlahan” pada “…titik-titik air dari mata berkabutmu jatuh berlahan.” Kekurangcermatan ini tidak mengganggu jalan cerita secara keseluruhan, tetapi cukup mengganjal bagi pembaca yang menikmati cerpen ini dengan cermat.
Satu hal lagi yang patut menjadi catatan adalah bagaimana penulis mampu menempatkan diri sesuai dengan zamannya. Bahasa penulis zaman Pujangga Baru tentunya berbeda dengan bahasa penulis zaman sekarang. Oleh karena itu, rasanya terlalu dipaksakan ketika dalam cerpen remaja saat ini muncul kalimat yang biasa digunakan dalam karya sastra zaman, terutama penggunaan gaya bahasa Melayu Lama. Terinspirasi oleh cerita yang pernah dibaca tentunya bukan hal yang dilarang dalam berkarya, tetapi ciri khas sendiri seharusnya tetap muncul sebagai identitas yang membedakan seorang penulis dengan penulis yang lainnya.
Catatan kecil ini semoga menjadi pembangkit gairah dalam berkarya. Selamat berkarya adik-adikku, semoga kreativitas senantiasa menjadi milik kalian. Salam!

*Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Alumni Universitas Negeri Jakarta dan mahasiswi program pascasarjana UI




KAU DAN DIAMMU

Dia baru saja benar-benar pergi untuk selamanya pagi tadi dan malam ini aku masuk ke kamarnya diam-diam. Seperti aku yang diam-diam benci pada Bapakku yang menganggapnya anak yang tak berbakti.
Aku tak bisa terlelap di malam yang makin hampa. Sekarang aku tak lagi bersama sesosok gadis yang sangat pendiam ataupun sesosok janda muda yang malang tetapi tetap bersahaja, tulus dan tak pernah mengeluh. Dia sudah benar-benar hilang dari tatapan namun begitu, tidak akan lenyap dari hati dan ingatan. Setiap kata-kata singkat yang dia ucap ataupun selengkung senyuman di bibirnya atau tepatnya diamnya yang penuh selaksa makna.
Kamarmu masih saja wangi, meski kau sudah tiada. Aku ingin kau di sini malam ini. Aku yakin dua hari yang lalu saat kau kutemui di kamar ini, kau sedang bersedih. Aku tak pernah melihat cahaya di matamu hanya kabut tebal menyelimuti beningnya cerminan hatimu itu.
Dua hari yang lalu kau duduk di kursi meja belajarmu. Kau buka jendela di hadapan meja itu. Setangkai mawar putih yang kau letakkan pada guci bening berisi air, kau ciumi berulang-ulang. Ketika kudekati dirimu, titik-titik air dari mata berkabutmu jatuh berlahan. Baru kali ini kulihat kau menangis. Mungkin lebih sering hatimu yang menangis sehingga kepedihanmu tak pernah terhapus.
Bergegas kau menunjukkan senyuman dan wajah yang seolah bahagia ketika kau tahu aku datang. Ternyata kau rindu kekasihmu yang dulu. Seandainya aku bisa menghapus air di mata dan di hatimu pasti aku seperti melihat musim semi tiba. Dan aku bagian dari bunga-bunga kuncup yang ingin mekar saat itu.
Janda muda yang kau kagumi itu adalah satu-satunya kakak perempuanku. Dia tujuh tahun lebih tua dariku. Dia seorang yang sangat pendiam. Tidaklah dia bicara bila tiada perlunya. Lembut dan penuh misteri sikapnya. Dia menyukai kata-kata mutiara dan mengumpulkannya dalam sebuah buku, baik yang tercipta dari pikirannya ataupun didapat dari buku-buku yang dia baca. Kukira itu yang bisa menegarkan hatinya selama ini.
Sebenarnya masih terlalu muda baginya menjadi seorang janda. Sebab itu sedari tadi aku menyebutnya janda muda. Dia meninggal pada usianya yang baru dua puluh tahun. Usia di mana seseorang dapat menentukan langkah terbaiknya dalam menentukan jalan yang dipilih untuk ditempuh. Sayangnya semua itu tidak didapatkan oleh kakakku.
Dia dijodohkan dengan pemuda anak relasi kerja bapakku saat baru beberapa bulan lulus SMA. Aku tahu sesungguhnya kakakku tidak mau tapi dia takut dikatakan melawan orang tua, sehingga dia hanya tersenyum kecil saat bapak menanyakan persetujuannya. Aku geram ketika itu. Mengapa dia tidak menolak saja? Padahal saat itu orang yang dicintainya baru saja mengutarakan dan berjanji setia pada kakakku. Setelah kakak berharap selama dua tahun.
Aku ingat waktu sebelum dia menikah dan masih sekolah. Aku menemukannya tersenyum lepas memandangi foto seorang laki-laki berseragam putih abu-abu. Kutanyai dia dengan tulisanku karena Tuhan menciptakan aku dengan tidak dapat bicara. Ya, aku hanya seorang tuna wicara.
“Apakah dia pacarmu, Kak?” tanyaku lewat tulisan dan dia hanya menjawab tidak. Kutanyakan lagi apakah laki-laki itu mencintai kakak, tapi kakak bilang bahwa dialah yang mencintai laki-laki itu dan laki-laki itu belum membalas cinta kakakku. Pertama kali itulah kakak tersenyum dengan kebahagiaan.
“Kakak bahagia dengan semua ini! tetapi bukankah lelaki itu jahat, karena tidak membalas cinta kakak?” tulisku yang kemudian dibaca olehnya. “Dia tidak jahat, Nes. Di rumah ini. Cuma Anes yang boleh tahu bahwa lelaki di foto ini yang membuat hidup kakak lebih berarti,” ucapnya penuh kebahagiaan. Akupun demikian, turut bahagia bila dia bahagia. Sayangnya, saat ini aku belum mengerti soal cinta, aku masih terlalu kecil.
Aku kembali pada kenyataan bahwa sekarang di kamar ini aku masih sendiri. Mawar putihnya dua hari yang lalu masih belum layu meskipun tidak berseri saat dirinya, pemilik bunga itu masih di sini. Kubaringkan tubuhku di atas tempat tidur kakakku. Kupejamkan mata meskipun pikiranku melayang. Untuk kesekian kalinya pertahananku runtuh, janjiku teringkari karena air mataku jatuh lagi. Maaf kak, aku tak sekuat dirimu yang bisa menyembunyikan air mata. Aku tak ingin dirimu pergi.
Sampai saat ini merasa tak adil pada kakakku. Mengapa dilahirkan oleh orang tua yang tak pernah menyayanginya. Dia memang terlahir lebih sempurna dari aku, tetapi aku lebih beruntung daripada dia. Orang tuaku bahkan tidak memahami sifatnya yang pendiam.
Suatu ketika kakak pernah dimarahi Bapak, karena dia mengajariku bermain bola bekel. Aku saja sudah mengerti saat kakakku hanya tersenyum dan mengedipkan mata ketika aku aku minta diajari.
Setelah bapak keluar aku minta maaf dengan bahasaku sendiri. Kakak masih diam dan sesaat kemudian dia tersenyum. Hatiku tenang jika dia sudah tersenyum, itu berarti dia akan baik-baik saja.
Sekarang pun aku masih tak mengerti mengapa bapak dan ibu menganggap kakak tak pernah sayang padaku. Apa karena kakak tak pernah menunjukkannya? Apa karena kakak tak pernah menyisir rambutku seperti kakak yang lain kepada adiknya? Apakah karena kakak tak pernah mencium keningku atau apalah! Aku tak mengerti, bagiku itu tak masalah. Aku memang tak bisa membuktikan pada orangtuaku bahwa kakak menyayangiku karena memang kakak terlihat seperti tak peduli denganku. Aku percaya kakak sayang padaku. Aku merasakannya dan sangat merasakannya.
Aku merasa kakakku begitu sempurna. Bahkan perempuan mana pun mungkin tak ada yang bisa sepatuh dia. Aku senang dengan prinsip hidupnya. Dia sering membiarkan aku berkreasi dengan hal-hal atau pekerjaan kecil. Dia hanya diam sambil menggeleng bila yang kulakukan itu salah dan tersenyum bila aku benar dan berhasil. Dia tak pernah menyuruh dan memaksaku. Pekerjaan yang dianggapnya berat untukku tak boleh aku kerjakan. Mungkin itulah bentuk rasa sayang yang bisa dia tunjukkan.
Suara petir bergemuruh mengagetkanku. Menyadarkanku dari lamunan panjang. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Berjuta kemarahan bangkit saat wajah Mas Arul melintas. Kemarahan itu bukan hanya milik Mas Arul, mantan suami almarhumah kakakku, tetapi juga pada bapak. Bapak telah memilih laki-laki yang salah buat kakak.
Sewaktu menjadi istri Mas Arul, kakakku sangat tersiksa. Harta memang bukan jaminan akan kebahagiaan seseorang. Mas Arul sering memukuli kakak, menghina bahkan melecehkannya. Itu semua kuketahui dari tetangga kakak. Meskipun demikian, kakak tetap tabah sampai Mas Arul menceraikan kakak dan menikah lagi.
Sejak itu aku sangat benci melihat wajah Mas Arul. Apalagi melihatnya memperhatikan kakakku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya seperti menerawang. Aku heran mengapa bapak memilih orang yang tidak memiliki etika sepertinya.
Sebenarnya saat itu aku sangat marah pada bapak. Akan tetapi tidak ada yang dapat kuperbuat. Kakakku cantik, baik, sopan, dan juga lugu. Aku bahkan tidak percaya bapak tega menjodohkan dia dengan laki-laki seperti Mas Arul hanya kerena harta.
Dari dulu sampai sekarang aku yakin cuma aku yang tahu tentang kakak. Aku memang nakal, aku sering membaca buku harian kakakku. Aku jadi tahu saat dia diam karena bingung berfikir atau pun sedang menghadapi masalah.
Kakak juga pernah bercerita bagaimana kisah ceritanya dengan orang yang dicintainya. Mungkin baru terjalin selama satu minggu sampai akhirnya kakak minta putus karena akan dinikahkan.
“ Tetapi dia tidak membenci kakak kan?” tulisku.
“Tidak, dia selalu baik dan menghargai kakak.”
Ahh, malang sekali nasib kakak. Setelah bercerai dengan Mas Arul, bapak masih saja mencarikan jodoh untuk kakak. Ternyata bapak belum puas dengan tindakannya.
Aku baru mulai melihat kebahagiaan kakak kembali kemarin pagi. Dia senang sekali karena kekasih yang dicintainya dulu akan melamar malam ini dan orangtuaku merestui. Senyumnya persis saat dia memandangi foto laki-laki itu dulu.
Tak disangka Mas Arul datang sebelum acara pertunangan dan mengacaukan semua. Mas Arul menuduh kakak mencuri uang tabungannya dan menampar kakak keras-keras di depan bapak. Kakak terlempar dan kepalanya terbentur ke dinding. Acara pertunangan diundur karena kakakku masuk UGD, dan Mas Arul ditangkap polisi. Tidak hanya membuat keributan, juga kerena terbukti korupsi di perusahaan tempat dia bekerja.
Pagi tadi peristiwa itu terjadi, kakakku telah dipanggil Tuhan. Kekasih kakak pun hanya bisa pasrah dan pergi dari kotaku untuk melupakan semua kejadian ini. Aku melihat kekecewaan yang besar dalam dirinya. Kesempatan kedua yang diharapkan ternyata tidak dapat menjadi kenyataan. Sepertinya takdir tak berpihak kepada mereka. Namun begitu, aku yakin akan cinta mereka berdua. Mungkin bukan di dunia ini dan mungkin bukan saat yang tepat untuk mereka berdua. Aku hanya yakin bahwa keputusan Tuhan adalah sebaik-baiknya jalan yang harus kita tempuh.
“Kak, sudah lima tahun aku tanpamu. Hari ini aku ingin menjengukmu. Bunga mawar di depan rumah kita berbunga lebat dan kubawakan untukmu.
Kak, umurku baru delapan belas tapi bapak sudah punya calon suami untukku, ternyata kejadian lima tahun yang lalu tidak membuat bapak puas. Kakak harus tahu, sekarang ibu sudah lebih baik dari pada dulu. Beliau titip salam buatmu.
Oh ya kak, kemarin kekasihmu mengirim surat kepadaku. Dia sudah menikah dan punya anak, anak pertamanya perempuan dan diberi nama sama sepertimu. Kau pasti senang.”
Aku melangkah meninggalkan makam nisan kakak. Langkahku terhenti dan aku membalik badan. Tak sengaja kubaca tanda di nisan itu “IRMANISHA BINTI APRIZAL” Astaga! Itu bukan nama bapak, aku baru sadar. Kakak bukan anak kandung dari orangtua yang selama ini bersamanya. Aku mengerti sekarang, mengapa ia selalu diam jika dimarahi bapak dan aku yakin dia sudah tahu jauh sebelum aku menyadarinya.
“Aku, lalu apakah aku bukan juga anak bapak? Ya Tuhan, maafkan aku yang baru menyadari hal ini. Maafkan aku yang tak bisa berbuat apa-apa untuk kakakku.
Maafkan aku yang tidak mampu membelanya. Pantas saja, bapak dan ibu tidak pernah mengerti kau dan arti diammu. Aku menangis dan terduduk lemas di tepi nisan Kak Nisha.

*Peristianika SMAN 5 Bandarlampung
Salah satu cerpen terbaik pada lomba Penulisan Cerpen Remaja Provinsi Lampung 2007 yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

0 Comments:

Post a Comment



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda