SELAMAT DATANG DI RUANG KECIL KAMI

Pesan Dalam Puisi

Yulfi Zawarnis, pemerhati sastra


Perjalanan seorang sastrawan, seringkali berangkat dari kekaguman bahkan kejenuhannya terhadap dunia sekitar. Dari kekaguman atau kejenuhan itulah kerap tercipta kaya-karya yang baik. Bagi seorang sastrawan tentunya bukan penilaian baik atau burukny karya yang mereka pedulikan, tetapi bagaimana mereka memperoleh kepuasan batin atas karya-karya yang mereka hasilkan. Namun demikian, seorang sastrawan tentunya juga senang ketika karya yang mereka hasilkan dapat dinikmati dan diapresiasikan dengan baik oleh orang lain.
Setiap penikmat karya sastra, khususnya puisi, memiliki cara tersendiri dalam mengapresiasikan dan menafsirkan karya yang dibacanya. Saini K.M. menuliskan bahwa seorang penyair mendekati objek atau sumber rangsangannya dengan seluruh pribadinya, yaitu seluruh daya, sifat, pikiran, perasaan dan khayalannya. Hal ini diungkapkan dengan kata yag bersifat konotatif. Artinya kata-kata dipilih dan diletakkan demikian rupa dalam suatu karya sehingga tidak saja pengertiannya yang tampil, tetapi juga perasaan-perasaan, asosiasi-asosiasi khayal yang ada dalam kata-kata itu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika puisi yang sama dimaknai berbeda oleh penikmat yang berbeda.
Membaca puisi-puisi Akbar, siswa Perintis 2 Bandarlampung, nuansa bahasa yang konotatif ini sangat terasa. Hal ini membuat saya merasakan adanya absurditas yang kental ketika membaca puisi. Pada puisi ”Menanam” misalnya, Ada/Hancur yang tidak pernah tidur. Berhenti pada baris kedua ini masih sulit menemukan pesan yang ingin disampaikan penyair. Eksistensi, mungkin itulah maksudnya. Akan tetapi, absurditasnya mulai mencair memasuki bait berikutnya. Bagaimana kami dapat membunuh/Sementara kami lupa cara untuk membenci. Pada bait ini saya melihat Akbar memunculkan sisi kemanusiaan yang sangat agung. Manusia yang seolah tanpa sisi buruk, jangankan untuk membunuh, untuk membenci saja mereka tak punya kuasa. Dalam puisi ini, saya melihat religiusitas yang syahdu yang disajikan oleh penyair. Alangkah damainya dunia dengan kondisi seperti ini.
Agaknya memang tema ketuhananlah yang ingin disajikan Akbar dalam keseluruhan puisi yang disajikannya kali ini. Terlepas dari semua itu, membaca puisi-puisi Akbar tidaklah terasa seperti membaca karya siswa yang baru saja menulis puisi. Rangkian kata yang harmonis dan isi yang penuh makna membentuk satu kesatuan yang indah. Sangat terasa bahwa Akbar menghasilkan karyanya lewat perenungan yang mendalam tentang hakikat kehidupan.

Dalam puisi ”Batas” misalnya. Seekor angsa /Terbang dengan sayapnya yang rapuh /Terluka /Di siang yang hujan. Lalu ia Mati./Ia tetap mati walaupun tidak ada yang mengamati/. Akbar tentunya tidak asal memilih metafor angsa untuk mewakili ide yang ingin disampaikannya. Tentunya ada pengalaman, perenungan, atau mungkin pengamatan terhadap sosok angsa ’sejenis unggas yang terlihat kokoh dan indah tapi sebenarnya memiliki banyak kekurangan’. Angsa tidak bisa terbang tinggi, walaupun tubuhnya memiliki sayap, dan lebih menyedihkan ketika angsa itu terbang dengan sayapnya yang rapuh dan dalam kondisi yang terluka. Keadaan seperti ini kerap kita temukan dalam kehidupan manusia. Akbar menyajikannya dengan bahasa yang indah yang membuat kita lebih merenungi hakikat kehidupan.
Lain halnya dengan puisi ”Pematung”. Di sini Akbar seakan mencoba menggugat sekaligus memperlihatkan kepasrahan sebagai hamba Tuhan. Akbar degan sadar mengakui bahwa dirinya sebagai objek penciptaan, yang hanya bisa pasrah pada kuasa Tuhan, akan tetapi dibalik kepasrahannya manusia juga memiliki banyak keinginan. Lagi, pada puisi ini kita disuguhi kuatnya imajinasi penyair melalui metafor-metafor yang digunakan. Pada puisi ini, Akbar mengibaratkan sang pencipta sebagai pematung, dan dirinya sebagai objek penciptaan.
Melalui puisi ”Pematung” Akbar membawa kita pada kesadaran betapa lemahnya kita sebagai mahkluk Tuhan. Banyak hal yang ingin kita lakukan, tetapi Tuhan lebih punya kuasa dan kita hanya bisa berharap dan berdoa. Dalam puisi ini pula, Akbar menyisipkan kritik sosial dalam puisinya. Terkadang kita tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di sekitar kita.
Pada puisi ”Pagi Sang Pelukis” penyair menyampaikan pencarian hakikat ketuhanan. Pada dasarnya manusia tidak pernah mampu berbuat sesuatu melebihi kekuasaan Tuhannya. Manusia hanya bertindak sesuai dengan takdir Tuhan. katakan soal mimpi/Yang tak sanggup diingat dan dilukis/Oleh perupa /Tentang warna yang tak pernah ada/ Pagi ini kau kembali mengeluh/Mencari warna yang tak pernah tercipta. Melalui bait-bait ini, kita dapat dilakukan manusia. Bahkan untuk mimpi yang seolah nyata, seorang perupa pun tak sanggup melukisnya. Manusia tidak akan pernah bisa menciptakan sesuatu yang tidak diciptakan oleh Tuhan.

Puisi-puisi disajikan Akbar kali ini tentunya sangat menyentuh sisi kemanusiaan kita, selain itu, Akbar cermat dalam menggunakan metafor dan apik dalam menggunakan ide dalam rangkaian kata-kata penuh makna. Hal yang terpenting adalah, puisi-puisi yang disajikannya kali ini sarat dengan pesan moral. Semoga puisi-puisi Akbar terus dipublikasikan sehingga kita dapat terus menikmatinya.


MENANAM

ada
Hancur yang tidak pernah tidur

Kami
Menunggu terlalu percuma
Dari sesuatu yang kekal
mempelajari
Bagaimana kami dapat membunuh
Sementara kami lupa cara untuk membenci

Api yang kami sulut
Sudah membakar jari kaki
perih itu kenangan yang kami tanami bunga


BATAS

Seekor angsa
Terbang dengan sayapnya yang rapuh
Terluka
Di siang yang hujan. Lalu ia Mati.
Ia tetap mati walaupun tidak ada yang mengamati.


PEMATUNG

lihat diriku
aku telah lama menatapmu
waktu sudah jauh meninggalkanmu
aku masih menunggumu
kau cuma duduk diam menutup mata
singkirkan tanganmu yang ternyata hanya bisa
menopang dagu

sentuh kulitku
aku rindu tiap rabamu
luka di jemari kirimu kini kering
kau belum juga melirikku
pahat mulai karat dan tumpul
palu kayu kini merapuh dilahap rayap
mereka berdebu
kau tak juga menyentuhku

selesaikan bentukku
aku bermimpi tentang mata, telinga
bahkan barangkali aku butuh hidung
untuk coba hirup aroma air
kau cuma mengukir mulut yang tidak mampu bersuara
tangan yang tak mengepal
kaki yang tak berdiri

ingat aku
mungkin kau cukup sekejap untuk mengabaikanku
tetapi butuh ribuan tahun bagiku untuk berhenti
menuntutmu, memohon padaMu, melupakanmu

asah kembali pahatmu
gerakan tanganmu
pahat tiap detil bentukku
balut lukamu
agar aku tak menangis ketika kau selesaikan mataku
rapihkan telingaku
supaya aku mampu mendengar jelas
rintih kuda di pekaranganmu
namai aku
maka tak pernah kulupakan namamu

Keseimbangan

hutan rimbun
sesatkanmu dengan hitam
padang pasir luas tenang
juga mengantarmu pada buta
Mawar
Punya duri.
raflesia
kaya warna


Pagi Sang Pelukis

katakan soal mimpi
Yang tak sanggup diingat dan dilukis
Oleh perupa
Tentang warna yang tak pernah ada

Pagi ini kau kembali mengeluh
Mencari warna yang tak pernah tercipta

tiap harimu pikirkan warna
Tak pernah kau mampu goreskan warnaNya
Mimpimu cuma telur
Buah predator
Predator pelahap hari
Predator pemburu akhir

kau telah melukisNya?

Pernahkah kau melukis dirimu?
Aku menamai diriku ‘Hitam’

Mudahnya kau melukis dirimu
Mampukah kau melukis mimpimu?
Tak pernah kulakukan

Siapa pewarna bunga
Hingga begitu indah
Siapa pelukis langit
Hingga tak ada batasnya
Kau dapat melihat
Bisakah kau melukisNya
Sebagai plagiator, bukan predator

Pagimu cepat berlalu
Kau lupakan sesuatu
Yang kuingat predator mulai tumbuh dewasa
Porsi makannya bertambah

Sahabatmu ‘Hijau’ kahilangan
pagiNya
kasihku ‘Putih’ lenyap
dan Tak terkecuali mimpimu semalam


Karya: Akbar Adhitama, XII IPA 1 SMA Perintis 2 B.L
TTL: Jakarta, 30 Juni 1990

0 Comments:

Post a Comment



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda